Belajar dari proses…
Suatu ketika ada seorang anak yang suka mengamati alam. Dia melihat dan tertarik pada sebuah kepompong. Kepompong itu tampaknya telah melewati fase akhir dan akan menjadi kupu-kupu. Anak itu mengamati terus menerus usaha calon kupu-kupu tersebut. Tampaknya, calon kupu-kupu itu sulit sekali untuk keluar. Sampai menurut anak itu, usaha itu mustahil dilakukan.
Akhirnya anak itu kasihan dengan calon kupu-kupu itu. Dia ambil sebuah silet dan membelah kepompongnya. Calon kupu-kupu itu keluar dengan mudahnya. Namun apa yang terjadi? Kupu-kupu itu tak pernah bisa mengembangkan sayapnya untuk terbang. Sepanjang umurnya, kupu-kupu itu hanya bisa merayap. Anak itu terus berharap kupu-kupu itu bisa terbang, tapi harapannya tak jadi kenyataan.
Ini adalah sedikit cerita yang dulu pernah aku dengar dari kakek saat aku mengeluh pada beliau dengan banyaknya masalah yang menderaku. Saat itu aku hampir putus asa karena aku pikir tak seorangpun mau menolong aku. Tapi kakek dengan bijaknya menceritakan hal ini kepadaku. Perumpamaan dalam cerita ini sungguh luar biasa.
Apa yang anak itu lakukan memang baik, namun bukan itu yang dibutuhkan si calon kupu-kupu. Anak itu tidak pernah mengerti bahawa perjuangan untuk mengeluarkan badan dari celah sempit itu untuk mendistribusikan cairan dari tubuhnya supaya kupu-kupu itu bisa mengembangkan sayapnya untuk digunakan terbang, sesuai yang ditentukan oleh Allah.
Seringnya, perjuangan adalah sesuatu yang kita butuhkan dalam hidup ini. Kesakitan dan kesulitan mungkin kita dapatkan. No pain no gain, orang di barat sana menyebutnya begitu. Jika Allah membiarkan kita bolos dari semua ujian, maka kita akan jadi lemah, tidak sekuat apa yang kita harapkan dan tidak akan pernah “terbang” seperti kupu-kupu itu.
Kita minta kepada Allah sebuah kekuatan lalu Allah memberi kita kesulitan untuk dihadapi supaya kita semakin kuat. Kita minta kebijaksanaan lalu Allah memberi masalah yang harus kita pecahkan. Kita menginginkan kekayaan lalu Allah memberi kita otak dan kekuatan untuk bekerja. Kita meminta cinta dan Allah memberikan orang-orang yang harus kita bantu.
Allah memberikan apa yang kita butuhkan untuk mencapai keinginan kita, bukan memberikan apa yang menjadi keinginan kita secara langsung. Dunia ini bukan dunia dongeng. Jadi jalanilah hidup tanpa rasa khawatir. Semua masalah pasti dapat teratasi jika kita yakin dan tahu. Seperti kata pepatah, “Apa yang tidak membunuhku, akan membuat aku lebih kuat”.
Inspirasi ini turun saat ngopi berempat dengan sahabat lama, kemarin siang. Saat aku iseng menanyakan, sebenarnya kapan sih rombongan Kera Sakti mendapatkan kitab suci? Salah satu temanku menjawab bahwa memang sebenarnya kitab itu adalah pelajaran yang mereka petik selama perjalanan itu, bukan kitab dalam arti materi yang sebenarnya. Jadi, apakah kamu sudah mendapatkan "kitab suci"-mu?

March 2nd, 2010 - 13:37
Wah… ini baru artikel yang menggugah selera. Terus kembangkan mas….

April 18th, 2010 - 15:50
“Allah memberikan apa yang kita butuhkan untuk mencapai keinginan kita”
Love this quote XD