Simply Iwan Hanya Iwan yang sederhana, seperti kemarin…

3Apr/102

Hidup tampak tidak ideal…

Apa maksudnya hidup tampak tidak ideal? Maksudnya adalah tampaknya tidak ada yang namanya pembagian yang merata (50:50). Hampir semuanya tidak tampak merata. Namun sebetulnya semuanya itu adil. Kacamata keadilan adalah relatif, sehingga apabila salah menafsirkan keadilan, maka kita hanya akan menyiksa diri sendiri dalam ideologi kita sendiri. Seringnya kita salah dalam hal ini. Seringnya kita terpaku pada keharusan sebuah ke-ideal-an sehingga menghambat kita untuk mencapai sesuatu.

6Mar/107

Semuanya adalah tentang kamu…

Hanya kamu yang benar-benar peduli tentang kesuksesan pribadimu. Tidak ada yang peduli apa yang kamu lakukan, mungkin kecuali orang tua dan orang terdekat kamu (baca: pacar). Jika kamu benar-benar ingin sukses, kamu harus terlebih dahulu bertanggung jawab atas dirimu sendiri.

Tidak akan ada orang lain yang akan memberikan kesuksesan dalam hidupmu. Bahkan orang lain seringnya lebih suka melihat kamu gagal. Sadari, bahkan sebagian besar orang senang akan kegagalanmu. Kamu mungkin beruntung menemukan beberapa teman sejati, tapi sebaiknya kamu-lah yang harus paling peduli dengan apa yang terjadi dalam hidupmu.

2Mar/105

Proses itu penting…

Proses adalah satu kata yang sepertinya sederhana, tidak rumit, tapi butuh banyak pemahaman. Sebuah kata yang memiliki penjelasan yang mungkin tidak bisa 2 halaman kertas folio. Satu kata yang bisa digabungkan dengan ratusan kata yang lain, membentuk sebuah arti baru. *stops! jangan diterusin!*

Belakangan aku sering menemukan bahwa kata ini diabaikan oleh banyak orang yang aku lihat. Jadi aku merasa, kata ini menarik banget untuk dibahas. Mungkin banyak orang sering mendengarnya, tapi jarang sekali yang membuatnya berarti. Proses bisa dikatakan sesuatu yang dekat dengan kita tapi tidak kita pedulikan. Padahal, semua dari kita berproses. Mulai lahir, balita, anak-anak, remaja, dewasa lalu tua. Proses kan?

1Mar/102

Belajar dari proses…

Suatu ketika ada seorang anak yang suka mengamati alam. Dia melihat dan tertarik pada sebuah kepompong. Kepompong itu tampaknya telah melewati fase akhir dan akan menjadi kupu-kupu. Anak itu mengamati terus menerus usaha calon kupu-kupu tersebut. Tampaknya, calon kupu-kupu itu sulit sekali untuk keluar. Sampai menurut anak itu, usaha itu mustahil dilakukan.

Akhirnya anak itu kasihan dengan calon kupu-kupu itu. Dia ambil sebuah silet dan membelah kepompongnya. Calon kupu-kupu itu keluar dengan mudahnya. Namun apa yang terjadi? Kupu-kupu itu tak pernah bisa mengembangkan sayapnya untuk terbang. Sepanjang umurnya, kupu-kupu itu hanya bisa merayap. Anak itu terus berharap kupu-kupu itu bisa terbang, tapi harapannya tak jadi kenyataan.